Senin, 20 Oktober 2014

PEMBESARAN

PEMBESARAN
Usaha pembesaran ikan nila di tambak dengan sistem monokultur, mempunyai sasaran produksi untuk pasar domestik maupun ekspor.

Untuk pembesaran nila di tambak, yang pertama dilakukan adalah tambak diperbaiki pematangnya, saluran air dan pintu-pintu airnya. Lumpur dasar tambak diangkat, selanjutnya tambak dikeringkan, sehingga semua hama ikan yang suka mengganggu bisa musnah. Pengapuran dilakukan dengan takaran 50 g/m2 dan pemupukan dengan pupuk kandang sebanyak 250 g/m2. Kemudian tambak diisi air sampai ketinggian 70 cm, setelah tiga hari dilakukan pemupukan dengan urea dan TSP dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2. Pada awal pengisian air diusahakan kadar garamnya sekitar 5 ppt dan selanjutnya bisa dinaikan selam masa pemeliharaan sampai 15 ppt.

Benih yang ditebar sebaiknya berukuran + 1,25 g ( panjang 3-5 cm ) dengan ukuran yang seragam dan sehat ditandai dengan warna cerah, gerakan yang gesit dan responsif terhadap pakan. Untuk target panen ukuran rata-rata 15 g/ekor (+ 1 bulan ), padat penebaran sebanyak 20 ekor/m2. Sedangkan untuk terget panen ukuran 500 g/ekor (+ 6 bulan pemeliharaan), padat penebaran sebanyak 4 ekor/m2.

Selama masa pemeliharaan ini ikan diberi pakan tambahan berbentuk pelet sebanyak 3%-5% per hari dari biomassa, dan diberikan dengan frekuensi tiga kali sehari, pakan tersebut harus berkualitas dengan komposisi protein minimal 25% ( Lampiran 2 ).

Pada awal pemeliharaan, ketinggian air dipertahankan minimal 70 cm, dan bila masa pemeliharaan telah telah mencapai dua bulan ketinggian air dinaikan, sehingga menjelang pemeliharaan empat bulan ketinggian diusahakan mencapai 1,5 m.

Pemupukan ulang dengan pupuk kandang dilakukan dua bulan sekali dengan takaran 250 g/m2, sedangkan pemupukan ulang urea dan TSP dilakukan setiap minggu dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2 selama masa pemeliharaan.

Dengan target produksi ukuran 500 g atau lebih per ekor terutama diperlukan untuk produksi fillet, maka masa pemeliharaan adalah sekitar enam bulan. Pemanenan dilakukan dengan cara disusur dari ujung menggunakan jaring seser. Bila dirasakan populasi ikan dalam tambak sudah tinggal sedikit, baru air tambak dikeringkan. Diusahakan ikan hasil tangkapan harus dalam keadaan segar dan prima. Selainitu, untuk pasar ekspor komoditas nila ini diperlukan penanganan yang lebih hati-hati terutama sekali dari aspek higienis dan penampilan produk.

Untuk keperluan konsumsi lokal umumnya ikan dengan ukuran rata-rata 200 g/m2 sudah dapat dipasarkan dalam keadaan segar. Dalam proses penyimpanan, pengankutan dan pemasaran dapat menggunakan es sebagai media untuk mempertahankan kesegaran ikan.
selama 3-4 minggu dan diberi pakan dengan kandungan protein diatas 35 %.

Setelah dua minggu masa pemeliharaan adaptasidi kolambiasanya induk-induk betina mulai ada yang beranak, menghasikan larva yang biasanya masih berada dalam pengasuhan induknya. Larva -larva tersebut dikumpulkan denga cara diserok memakai serokan yang terbuat dari kain halus dan selanjutnya ditampung dalam happa ukuran 2 x 0,9 x 0,9 m3. Pengumpulan larva dilakukan beberapa kali dari pagi sampai sore, dan duusahakan larva yang terkumpul satu hari ditampung minimal dalam satu happa.

PENDEDERAN

pendederan

Pendederan benih adalah pemeliharaan benih ukuran lepas induk (ipukan), yaitu kebul yang berumur 5-7 hari sampai ukuran siap tebar untuk pembesaran yang berbobot 100 g/ekor. Pada pembenihan secara intensif pada umumnya ada 3 tahap pendederan
Ø  Luas kolam pendederan dibuat antara 100 m2. Kolam pendederan disiapkan dengan cara dikeringkan terlebih dahulu selama kira kira 3 hari. Selanjutnya dilakukan pemupukan dengan kapur tembok sebanyak 10 g/m2 (untuk kolam baru 100-250 g/m2), kotoran ayam 25 g/m2, urea 2 g/m2, TSP 5 g/m2. Jika didalam kolam sering tumbuh lumut hijau (Spirogyra) sebaiknya jangan di pupuk urea. Setelah pupuh di dasar kolam rata, kolam dapat di aliri air sampai setinggi 0,5 m selama 5-7 hari. Sebelum air masuk ke kolam pendederan, air tersebut harus di saring dahulu dalam bak filter sehingga air menjadi bersih.


pendederan tahap 1


Pendederan Tahap I ini menggunakan benih ukuran kebul (lepas induk/ipukan) dengan padat tebar 300 ekor/m2. Benih diberi pakan emulsi dengan formula tertentu. Jumlah pakan yang diberikan tergantung dari umur benih. Untuk ukuran lepas induk/ipukan diberi pakan sebanyak 1 g/1000 ekor yang diberikan 6-8 kali sehari, benih umur 5-10 hari sebanyak 2 g/1000 ekor dengan 6-8 kali sehari, dan untuk benih umur 10-15 hari sebanyak 3 g/1000 ekor dengan 6-8 kali sehari.
Ø  Debit air yang masuk ke kolam pendederan harus diatur, yaitu sekitar 100 ml/detik. Kedalaman air 0,5 m. Benih dipelihara selama 12-15 hari, benih yang dipanen rata rata dapat mencapai 80-90 % dengan ukuran 3-5 cm/ekor.


tahap pendederan tahap II dan III
Ø  Persiapan pendederan II dan III tidak jauh berbeda dengan pendederan I, hanya dalam pedederan II ini padat tebar menjadi 100 ekor/m2. Benih diberi pakan tambahan berupa tepung dengan formula tertentu pada minggu ke I dan remah pada minggu –minggu selanjutnya sebanyak 5 x bobot benih tebar yang diberikan 6-8 kali sehari
Ø  Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panen dapat mencapai 70-80% dengan ukuran 8-12 cm/ekor.
Ø  Apabila benih belum mencapai ukuran 100 g/ekor, maka dilanjutkan dengan pendederan III, padat tebar 50 ekor/m2. Pada pendederan III ini benih diberi pakan remah dengan formula tertentu sebanyak 4 x bobot tebar benih yang diberikan 5 kali sehari pada minggu ke I. Untuk minggu selanjutnya benih diberi pakan pelet 2 mm dengan formula tertentu, sebanyak 3 x bobot total benih, diberikan 4 kali sehari selama 3 minggu. Hasil panen dapat mencapai 65-80 % dan rata rata ukuran benih 100-130 g/ekor.
Ø  Pembesaran benih ikan berumur 81 hari (100 g) sampai dengan yang dibutuhkan untuk Konsumsi atau untuk Induk. Diberi pakan pelet 3 kali sehari.

pemeliharaan larva

cara memelihara larva
Larva adalah anak hewan avertebrata yang masih harus mengalami modifikasi menjadi lebih besar atau lebih kecil untuk mencapai bentuk dewasa. Menurut Lagler (1956), larva adalah organisme yang masih berbentuk primitif atau belum mempunyai organ tubuh lengkap seperti induknya untuk menjadi bentuk definitif yaitu metamorfosa.
Perkembangan stadia larva meliputi stadia pro-larva dan stadia pasca larva. Stadia pro-larva merupakan tahap larva yang masih memiliki kuning telur, sedangkan stadia pasca larva merupakan tahaplarva yang telah habis kuning telurnya dan masa penyempurnaan organ-organ tubuh yang ada. Akhir stadia ini ditandai dengan bentuk larva yang sama dengan induknya yang biasa disebut dengan juvenil atau benih ikan. Larva ikan yang baru menetas memiliki kuning telur. Larva tersebut mengambil makanan dari kuning telur. Kuning telur akan habis setelah larva berumur 3 hari. Setelah kuning telur habis, larva mengambil makanan dari luar atau lingkungan hidupnya.
Larva ikan yang dibudidayakan harus dilakukan pemeliharaan untuk mencapai stadia benih. Wadah yang dapat digunkan untuk melakukan pemeliharaan larva ini bermacam-macam. Wadah pemeliharaan larva ini antara lain dapat berupa bak atau kolam. Pada pemeliharaan di bak yang perlu diperhatikan adalah sanitasi wadah sebelum digunakan untuk pemeliharaan dengan cara wadah direndam menggunakan larutan Methilen Blue 100 ppm selama 24 jam, kemudian dikuras dan diisi air bersih. Sedangkan wadah yang menggunakan kolam, sebelum digunakan harus disiapkan terlebih dahulu.

penetesan telur

Penetasan Telur
 
Pada ikan nila yang telurnya akan ditetaskan pada corong penetasan harus
dilakukan pemanenan telur. Pemanenan telur ikan nila ini dilakukan pada hari ke 9.
Pemanenan dilakukan dengan cara mengambil telur dari mulut induk betina ikan nila.
Sebelum pemanenan terlebih dahulu permukaan air kolam diturunkan sampai
ketinggian 10 - 20 cm. Jika pemijahan dilakukan di hapa (waring), maka caranya
adalah dengan menarik salah satu ujung hapa ke salah satu sudut hapa. dengan
hati-hati untuk menghindari induk mengeluarkan telur. Karena induk ikan nila jika
merasa dalam bahaya atau terdesak akan mengeluarkan telur di sembarang tempat.
Hal ini akan menyulitkan dalam mengumpulkan telur ikan nila.
Pengambilan telur ikan nila dilakukan dengan menangkap induk satu persatu.
Penangkapan induk dilakukan menggunakan seser kasar dan seser halus. Kedua
seser ini digunakan pada saat bersamaan. Seser kasar berfungsi untuk menangkap
induk sedangkan seser halus berfungsi untuk menampung telur ikan. Seser kasar
terletak terletak dibagian bawah. Pada saat menangkap induk dilakukan dengan hati-
hati agar telur tidak dikeluarkan. Cara mengambil telur dari induk betina yaitu dengan
memegang bagian kepala ikan. Pada saat bersamaan salah satu jari tangan
membuka mulut dan tutup insang. Selanjutnya tutup insang di siram air sehingga
telur keluar melalui rongga mulut. Selanjutnya telur-telur tersebut ditampung dalam
wadah. Hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari gerakan induk sekecil
mungkin agar telur yang telah keluar tidak berserakan. Induk yang telah diambil
telurnya dan yang belum memijah dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk. Telur
pada wadah penampungan jangan terkena sinar matahari langsung dan diupayakan
telur selalu bergerak. Telur yang terlalu lama diam serta kena sinar matahari
langsung dapat menimbulkan kematian. Selanjutnya sebelum dimasukkan ke corong
tetas, telur terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran berupa lumpur, lumut, sisa pakan
dan sebagainya. Telur yang telah bersih dari kotoran dapat dimasukkan ke dalam
corong penetasan
Pelepasan telur terjadi dalam beberapa kali dalam waktu beberapa menit.
Waktu yang diperlukan untuk pemijahan tidak lebih dari 10 - 15 menit. Sekali
bertelur, induk ikan nila dapat mengeluarkan telur sebanyak 300 - 3000 butir,
tergantung besar dan berat induk ikan betina. Induk muda yang pertama kali bertelur
kemampuannya masih sedikit. Makin tua umurnya, makin tinggi/banyak produksi
telurnya. Induk yang terlalu tua juga mulai menurun produksi telurnya serta kurang
baik mutu anak-anaknya. Sebaiknya induk ikan nila dipijahkan hanya selama 2 tahun
saja, kemudian diganti dengan induk yang baru. Telur yang telah dibuahi lalu
dipungut oleh induk betina dan dikulum di dalam rongga mulut untuk dieramkan.
Telur ikan yang dibuahi diameternya kurang lebih 2,8 mm. Selama mengerami
telurnya, induk betina tidak pernah makan sehingga badannya kurus. Pengeraman
terjadi selama 2-3 hari, dan setelah menetas larva masih dijaga oleh induknya
selama 6-7 hari. Ukuran burayak/larva yang baru menetas antara 0,9 - 10 mm.
Burayak yang masih ada dalam mulut induknya mengisap telur kuning yang ada
pada tubuhnya selama 4 - 5 hari.

pemijahan induk

Pemijahan Induk



1. Pematangan gonad dan telur induk.
Ø  Pematangan gonad dan telur induk merupakan tahap pertama dalam pemijahan benih. Dalam bak penyimpanan aliran air paling sedikit 0,8 L/menit.
Ø  Induk diberi pakan (pelet), 3 % x bobot total induk dan diberikan sebanyak 3 kali sehari, yang mengandung protein sebanyak 30-40 % dengan kandungan lemak tidak lebih dari 3 %.Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dari taoge dan daun daunan/sayuran yang di iris. Komposisi pakan dapat dilihat pada Tabel
Ø  Kurang lebih 2 minggu kemudian, induk sudah mengalami matang gonad dan telur. Pada saat itu induk sudah dapat dipijahkan. Bobot induk antara 500 – 600 g/ ekor.

2. Pemijahan dan penetasan telur.

Ø  Untuk kolam yang luasnya 100 m2 dapat ditebari induk nila sebanyak 90 ekor yang terdiri dari 30 ekor jantan dan 60 ekor betina.
Ø  Bila telah mendapatkan pasangan, ikan jantan membuat cekungan di dasar kolam sebagai tempat pemijahan. Cekungan berbentuk bulat cekung dengan garis tengah kira 30-50 cm atau tergantung ukuran induk ikan.
Ø  Setelah cekungan selesai dibuat, pasangan ikan nila melakukan pemijahan pada saat matahari terbenam, selama proses pemijahan induk betina berada di dalam cekungan. Kemudian induk jantan mendekati induk betina dan pada saat itu induk betina mengeluarkan telurnya. Telur telur itu tersimpan dalam cekungan dan dalam waktu yang bersamaan induk jantan menghamburkan spermanya di situ dan terjadilah pembuahan (fertiliasi) telur.
Ø  Pelepasan telur terjadi beberapa kali dalam jarak waktu beberapa menit. Waktu yang diperlukan untuk pemijahan kurang lebih 10-15 menit. Sekali bertelur induk nila dapat mengeluarkan telur 300 -3000 butir, tergantung berat dan umur induk betina. Sebaiknya induk betina nila dipijahkan sampai umur 2 tahun.
Ø  Telur yang telah dibuahi lalu di kulum oleh induk betina di dalam rongga mulut untuk dierami, selama mengerami telur induk betina tidak makan sehingga kelihatan kurus.
Ø  Selesai pemijahan induk nila jantan pergi meninggalkan induk betina. Beberapa hari kemudian induk jantan itu dapat melakukan perkawinan dengan betina lainnya.
Ø  Telur menetas setelah 2 hari, anak nila (burayak) yang baru menetas masih mengandung kantong kuning telur. Ukuran burayak yang baru menetas antara 0,9 – 1 mm. Burayak ini masih terus tinggal di dalam mulut induknya sampai 5-7 hari sampai kuning telurnya terserap habis. Setelah itu burayak mulai mencari makan di luar mulut induknya.
Ø  Ketika burayak belajar makan, burayak memakan zooplankton yang ukuran kecil sekali. Apabila tidak terdapat zooplankton, pakannya dapat diganti dengan bekatul atau tepung kedelai.

persiapan sarana dan prasarana

pembenihan 


Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb). Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila antara lain:

a) Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan.
Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 50-100 m2 dan kepadatan kolam induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah :
Ø  Suhu air berkisar antara 20-22˚C.
Ø  Kedalaman air 40-60 cm.
Ø  Dasar kolam sebaiknya berpasir.

b) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan.


Luas kolam tidak lebih dari 50-100 m2. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/ m2. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.

c) Kolam pembesaran.
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:

1. Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 m /kolam. Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual kepada pera petani.

2. Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah. Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10
ekor/ m2.

3. Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 m2.

d) Kolam/tempat pemberokan.
Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.

2) Peralatan.

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.

Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah :
Ø  Warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm.
Ø  Ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan.
Ø  Keramba kemplung.
Ø  Keramba kupyak.
Ø  Fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat).
Ø  Kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat).
Ø  Hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih.
Ø  Ayakan penyabetan dari alumunium/bambu.
Ø  Oblok/delok (untuk pengangkut benih).
Ø  Sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas).
Ø  Anco/hanco (untuk menangkap ikan),
Ø  Lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
Ø  Scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
Ø  Seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar),
Ø  Jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3) Persiapan Media.

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah :
Pengeringan kolam selama beberapa hari. Lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/m2.

Pemupukan dengan Pupuk Organik Nasa yang berupa TON + Pupuk makro, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi.